Menkop Cetak Pengusaha

Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga selaku Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop) menghimbau kepada perguruan tinggi negeri maupun swasta supaya bisa menjadi instansi atau sumber utama dari munculnya para pengusaha muda atau lahirnya para wirausahawan baru. Sebab kondisi perekonomian Indonesia saat ini, sesuai dengan arahan pemerintahan presiden Joko Widodo masih sangat membutuhkan banyak wirausahawan baru. Apalagi, melihat kondisi pendidikan, terutama di instansi perguruan tinggi yang tidak bisa menjanjikan lulusannya mendapatkan pekerjaan. Sehingga banyak para diploma ataupun sarjana yang tidak tertampung di lapangan pekerjaan yang ada, baik di instansi pemerintah maupun swasta. Artinya perguruan tinggi justru menghasilkan banyak pengangguran baru. Tentu saja hal itu berkebalikan dari tujuan universitas. Maka dari itu para pemuda perlu diberikan kemampuan dan keahlian yang dinamakan softskill, supaya nantinya mereka bisa bertahan dengan jalur wirausaha. Oleh sebab itu sekarang muncul mata kuliah kewirausahaan di perguruan tinggi. Meskipun banyak mahasiswa yang mempertanyakan fungsi dari mata kuliah wirausaha, tetapi saat mereka lulus, pasti akan bermanfaat.

Menkop Pengusaha

Bila dibandingkan dengan tahun 2015, pada tahun 2016 rasio wirausaha Indonesia telah meningkat. Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2016 menyebutkan bahwa peningkatan tersebut mencapai 3,10 persen. Padahal di tahun sebelumnya hanya mencapai 1,64 persen. Tetapi sayangnya, bila dibandingkan dengan negara tetangga, yakni Malaysia dan Singapura, Indonesia masih kalah. Malaysia meraih angka 5 persen, sedangkan Singapura 7 persen. Kemudian untuk negara Amerika Serikat mencapai 14 persen, Republik Rakyat Tiongkok 11 persen, dan Jepang mencapai 10 persen. Chandra Ekajaya sebagai seorang pengusaha sangat sepakat dengan keputusan Puspayoga dalam memberikan pelatihan kewirausahaan bagi mahasiswa. Karena mahasiswa merupakan penyumbang terbesar angka pengangguran, maka wajar jika kementerian koperasi dan usaha kecil menengah menekankan program kewirausahaan kepada perguruan tinggi. Pengusaha Chandra Ekajaya merupakan salah satu hasil nyata dari program tersebut. Ia menjadi pengusaha berawal dari seorang wirausahawan. Bila ditarik sebelumnya, ia adalah seorang mahasiswa yang rajin mengikuti program kewirausahaan yang diadakan oleh universitasnya. Meskipun tidak berhubungan dengan jurusannya, tetapi ia mengaku bahwa program tersebut sangat bermanfaat.

Kisah Sukses Slamet Pria Kelahiran Malang Beternak Bebek

Pria Kelahiran Malang Beternak Bebek

Seorang pengusaha memang harus mempunyai prinsip yang kuat dan tahan banting dalam menjalankan setiap usahanya. Ketika datang masa-masa sulit tentunya seorang pengusaha tidak boleh menyerah dan haruslah bangkit dengan cepat ketika terjadi sesuatu yang membuat usahanya down. Slamet Riyadi merupakan salah seorang pengusaha yang dapat dijadikan contoh dalam hal ini. Berawal dari 2 ekor bebek yang dipeliharanya dalam beternak bebek ketika awal menikah dengan istrinya ia berhasil mempunyai sebuah peternakan bebek yang besar.

Pria kelahiran Malang sekitar 35 tahun yang lalu ini bukanlah orang yang mempunyai basic peternakan. Slamet hanya iseng saja ketika memelihara sepasang bebek ini dan mencoba beternak bebek. Suatu ketika bebek kepunyaannya bertelur. Dari telur ini Slamet mendapatkan sebuah ide untuk menjualnya ke pasar karena harganya yang masih lumayan tinggi. Tak lama ketika itu datanglah sebuah angin surga yang ternyata bukan hanya angin saja. Seorang pengusaha besar Chairul Tanjung yang merupakan pengusaha media sedang mempunyai sebuah program untuk membantu UKM yang ada di seluruh daerah di Indonesia.

Pria Kelahiran Malang Beternak Bebek

Ketika itu Slamet mengetahui program itu dan mengikuti program yang diselenggarakan oleh Chairul Tanjung tersebut. Selama 10 hari Slamet mengikuti pelatihan tersebut, banyak hal yang didapatkan dari pelatihan tersebut yang membuat niat Slamet semakin besar untuk beternak bebek. Setelah menempuh pelatihan selama 10 hari, pihak dari Chairul Tanjung memebrikan bantuan kepada semua peserta berupa uang sebesar 5 juta rupiah untuk mengembangkan usaha UKM yang ada.

Dari uang 5 juta ini, Slamet membelanjakan untuk membeli 20 pasang bebek dan pakan. Selama 1 bulan Slamet fokus untuk memperbanyak telur bebek yang ada. Dari awal yang hanya menghasilkan 100 butir telur per minggunya sekarang produksi telur bebek Slamet sudah mencapai 1000 butir telur dengan ratusan indukan yang ia miliki. Dalam memasarkan telur-telur ini awalnya Slamet menawarkan kepada para pedagang di pasar.

Setelah beberapa minggu menawarkan telur dipasar saat ini para tengkulak sudah mulai mengambil langsung ke rumah Slamet untuk tiap harinya. Dari usaha ternak bebek ini ternyata mempunyai banyak keuntungan yang tidak terduga. “Tidak hanya telurnya saja yang laku, tapi indukan afkirnya juga laku,” kata Slamet. Dari semula yang hanya bermodal 2 ekor bebek kini usaha Slamet sudah beromset hingga ratusan juta per bulannya.