Chandra Ekajaya Sepakat Bahwa Bandung Adalah Kota Mantan

Bandung Kota Chandra Ekajaya

Seorang pengusaha muda sukses bernama Chandra Ekajaya menceritakan bahwa walikota Bandung saat ini yang akrab disapa dengan Kang Emil (Ridwan Kamil) memberikan pesan politik bersih dalam menciptakan nilai-nilai yang arif. Tanpa saling sikut dan adu-adu dalam mencapai sebuah jabatan kursi tertinggi di Bandung, ia menerangkan bahwa berpolitik perlu mengedepankan nalar tanpa mengesampingkan rasa, nilai, serta budaya saling menghormati masih tertanam dalam diri setiap pemimpin. Namun di zaman sekarang, politik justru menjadi tempat untuk menciptakan panggung sandiwara dan menjadikannya senjata untuk memutuskan hasrat berpolitiknya. Gairah politik pun kerap mengguncang panggung demokrasi Indonesia Black Campaign dan persaingan perpolitikan yang tak sehat untuk menguak tokoh politik agar tidak mendapatkan kepercayaan kepada masyarakat di Indonesia.

Pilkada Serentak menjadi panggung untuk mengimplementasikan politik di tengah masyarakat kita, dimana Pengusaha bernama Chandra Ekajaya menceritakan bahwa pilkada yang dimulai tanggal 15 Februari 2017 semakin menambah suasana panasa dalam panggung politik Indonesia. Memang urusan agama dicampuradukkan dengan urusan hukum,untuk menguasai dan memenangkan panggung demokrasi tersebut.

Chandra Ekajaya Bandung Kota

Pengusaha Chandra Ekajaya menceritakan bawa carut marut politik berindikasi dalam mencederai proses demokrasi di Indonesia dengan menyakiti ideology tertentu. Indonesia memang tampak kehilangan arah. Bangsa besar ini memang terlalu disibukkan dengan urusan politik dan hukum yang terus bergejolak tanpa muara. Pemerintah memang tidak boleh berlaur dalam situasi politik di Indonesia.

Chandra Ekajaya pun menceritakan pula bahwa role model kota maju hari ini tertuang di salah satu kota di Jawa Barat ini, dimana Ridwan Kamil terus menciptakan inovasi dan membangun infrastruktur yang menarik dengan kemampuannya sebagai seorang arsitektur. Dengan menggaet anak-anak muda daerah tersebut, Kang Emil pun kerap menciptakan beraneka acara populer bagi anak muda, bahkan lelaki berkacamata tersebut membuat sebuah sloga bernama Bandung Kota Mantan. Meski terdengar aneh, sebenarnya memuat kesan dan pesan yang diberikan oleh walikota tersebut. Pasalnya Bandung semakin menciptakan suasana dan nuansa dengan bangunan Indische nya yang megah, dimana setiap orang selalu menjemputnya untuk kembali.

Tak Ada Makan Siang Presiden Jokowi Suguhi Lumpia

Presiden Jokowi Temui SBY

Pertemuan yang dinanti-nantikan itu akhirnya terjadi. Kemarin (9/3), Presiden Jokowi  ( Joko Widodo ) menerima Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Istana Merdeka. Pertemuan itu dipandang sangat bermakna secara politis, meskipun belum akan membuat hubungan antar-tokoh-tokoh politik di kedua belah pihak membaik.

SBY tiba di Istana Merdeka sekitar pukul 12.15. Mengenakan batik cokelat, SBY hadir didampingi mantan Menkopolhukam Djoko Suyanto. Usai berbincang secara tertutup hampir setengah jam, Jokowi dan SBY keluar menuju beranda belakang Istana Merdeka. Keduanya duduk di sofa tempat Presiden Jokowi biasa menjamu pemimpin negara lain dalam sesi veranda talk.

Tidak ada sesi makan siang dalam pertemuan tersebut. Jokowi dan SBY hanya minum teh di beranda belakang sembari mengudap lumpia. Cuaca cukup terik kemarin siang. Namun, itu tidak menghalangi burung-burung betet di halaman dalam kompleks Istana Kepresidenan berkicau mengiringi percakapan keduanya.

Percakapan selama lima menit itu berlangsung serius dengan sesekali diiringi tawa. Baik oleh Jokowi maupun SBY. Kesan kaku memang masih tampak di antara keduanya, meskipun tidak terlalu kentara. Keriuhan baru dimulai ketika Jokowi mepersilakan wartawan mendekat ke meja dia dan SBY untuk sesi doorstop.

Saat sesi tersebut, tampak SBY sedikit canggung, meski sebelumnya sempat tertawa lepas bersama Presiden. Bagi awak media, itu tidak mengherankan karena SBY memang terbilang jarang menyampaikan statemen dengan cara doorstop. Meskipun demikian, SBY tampak berupaya menutupi rasa canggung tersebut.

Menurut Jokowi, dia sudah berulang kali menyampaikan kepada publik bahwa pertemuan dnegan SBY tinggal diatur. “Direncanakan, tapi kadang saya ada waktu, pak SBY beliau waktunya tidak ada, beliau ada (waktu), saya pas barengan acara. Waktunya sekarang,” terang Jokowi. Menurut Presiden, keduanya membicarakan banyak hal mengenai ekonomi dan politik di tingkat nasional. “Dan masih banyak hal-hal lainnya, namanya diskusi,” lanjut ayah tiga anak itu, lantas tersenyum.

Pertemuan Sby Dan Presiden Jokowi

Sementara, SBY mengaku bersyukur karena akhirnya mereka bisa bertemu. “Pertemuan ini sudah digagas dan dirancang cukup lama. Alhamdulillah berlangsung,” tuturnya. Dia mengapresiasi keberhasilan pemerintahan Jokowi dalam menjamu Raja Saudi, maupun saat menjadi tuan rumah KTT IORA baru-baru ini.

SBY menuturkan, karena jarang bertemu, akhirnya muncul informasi-informasi yang menurut dia tidak patut didengar. “Tadi suasananya baik sekali karena dapat dijadikan sebagai ajang tabayyun,” lanjutnya. Apalagi, sebelumnya proses transisi dari pemerintahan dia ke pemerintahan Jokowi berlangsung dengan lancar. Mantan Menkopolkam itu meyakinkan bahwa setelah ini tidak ada lagi miskomunikasi antara pihaknya dengan pihak Presiden.

“Saya bisa menjelaskan, beliau (Jokowi) mendengar dengan seksama. Saya juga mendengar dari beliau,” tutur ayah dua anak itu. Pertemuan itu menjadi awal yang baik, karena tidak pas bila antara pemimpin dengan mantan pemimpin ada miskomunikasi.

Sementara itu, disinggung mengenai rencana SBY blak-blakan saat bertemu Presiden , Presiden pun menyela. “Masa blak-blakan diblak-kan (disampaikan) ke kamu,” canda Presiden, seraya tertawa.

SBY menegaskan, dia datang ke istana dalam kapasitas sebagai mantan presiden. Dia tidak ingin pertemuan tersebut dikaitkan dengan politik yang sifatnya lebih teknis. Peluang kerjasama antar parpol pun masih terbuka bila itu memang bisa menyelamatkan negeri. SBY hanya tertawa ketika disinggung apakah bakal ada pertemuan berikutnya.

Jokowi menambahkan, budaya transisi dan estafet antar pemerintahan harus dibiasakan. “Pembangunan yang sebelumnya diteruskan oleh pembangunan presiden berikutnya,” ucap Jokowi. hal itu akan baik untuk rakyat. Selain itu, pemerintahan baru jadi tidak harus memulai segalanya dari awal..

Meskipun demikian, pertemuan itu tidak bisa serta merta menjadi ajang rekonsiliasi antar tokoh politik. “Itu masih jauh, apalagi kalau dikaitkan antara pak SBY dengan bu Mega,” ucapnya. Dia hanya bisa menyebut pertemuan itu sangat bermakna bagi SBY maupun Presiden Jokowi.