Start Up Tidak Hanya Digital

Chandra Ekajaya selaku seorang pengusaha mengatakan bahwa saat ini terjadi kesalahpahaman mengenai makna start up. Kesalahpahaman ini terletak pada bentuk dan wujudnya. Jadi generasi muda yang semakin melek teknologi, sangat optimis dalam melihat potensi dan peluang perusahaan rintisan atau lebih dikenal dengan sebutan start up.

Sayangnya, pengetahuan mereka tentang start up masih hanya sebatas iklan di dunia maya. Mereka mengartikan bisnis start up sebagai aplikasi atau perusahaan rintisan digital. Seperti Go-Jek, Uber, Grab, dan sebagainya. Padahal makna dari start up tidak hanya terbatas pada bentuk digital saja. Inilah yang membuat bisnis start up menjadi “berbahaya” jika tidak dipahami secara benar.

perusahaan rintisan

Meskipun Indonesia saat ini perekonomiannya banyak ditopang oleh pasar kelas menengah serta pasar domestik yang semakin melek teknologi, komunikasi, dan informasi. Oleh karenanya banyak ide, gagasan, dan bentuk bisnis yang berdasarkan kreativitas serta inovasi yang terbentuk. Tetapi para pengusaha yang akan terjun ke bisnis ini harus menyiapkan skenario terburuk.

Chandra Ekajaya mengatakan bahwa skenario terburuk yang bisa didapat oleh perintis bisnis ini adalah terjebak pada gagasan umum. Selama ini start up digital selalu diidentikkan dengan teknologi yang canggih nan rumit, waktu pengerjaan yang lama, dan biaya yang terbilang tinggi. Sehingga banyak para pelaku start up digital sudah bangkrut sebelum berkembang, karena tidak mempunyai segmen atau pasar.

Itulah akibat dari kesalahpahaman bila menyamakan bisnis rintisan sebagai bisnis rintisan digital. Kebanyakan dari mereka terpukau dan terpesona oleh gemerlap start up digital yang selalu digambarkan dengan kecanggihan, penuh warna dan gengsi. Respon masyarakat yang menyambut secara positif pun semakin membuat para perintis bisnis ini bersemangat.

Tetapi bila dilihat secara lebih detil dan seksama, para pelaku bisnis rintisan yang sukses dan muncul ke permukaan bisa dikatakan sangat sedikit. Kebanyakan para pelaku usaha yang tidak sukses mengaku bahwa mereka menyamakan konsep usaha rintisan sama dengan usaha rintisan digital. Selain itu mereka pun mendirikan start up dengan dasar yang lemah serta tidak kuat. Mereka hanya mendirikan bisnis itu berdasarkan fantasi dan tidak mempelajari dasar-dasar bisnis.

rintisan perusahaan

Satu hal yang harus dipahami adalah start up tidak harus selalu bergerak di sektor perdagangan, baik jasa maupun barang. Meskipun saat ini sektor tersebut memang memberikan sumbangsih sebanyak 70% dalam membuka lapangan pekerjaan.

Walaupun begitu, alangkah baiknya jika para pelaku bisnis start up tidak terjebak dengan tren yang sifatnya hanya sesaat saja. Seharusnya mereka lebih berpegang pada sisi keberlanjutan bisnis. Kesinambungan dan keberlanjutan memang ditentukan oleh inovasi pemilik usaha dalam menjalankan bisnisnya. Tetapi yang perlu digarisbawahi adalah inovasi tidak harus selalu dengan teknologi yang rumit, apalagi mahal.

Artikel lain tentang Pengusaha Chandra Ekajaya

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *