Semua Data Analisis Keberhasilan Yohanes Chandra Ekajaya dalam Bisnis Udang Windu

Dok. Yohanes Chandra Ekajaya

Yohanes Chandra Ekajaya dikenal sebagai seorang pengusaha muda sukses yang baru-baru ini tengah menjalankan sebuah bisnis yang menjadi percontohan di desa wisata Banyutengen. Desa Banyutengen merupakan sebuah desa yang memiliki potensi alam yang sangat cocok untuk dijadikan sebagai industri perikanan. Salah satunya adalah, udang windu. Komoditi udang windu terus menjadi idola bagi para pengusaha tambak karena tingginya permintaan pasar pada jenis udang tersebut sangat besar di pasar.

Pengusaha Yohanes Chandra Ekajaya sangatlah yakin bahwa dengan ukuran besar dan rasa udang yang manis mampu menciptakan komoditi udang windu yang banyak disenangi oleh pasar dalam negeri dan luar negeri. Dengan kisaran harga sekilo udang windu ditaksir seharga Rp 150 ribu dengan 10 hingga 15 ekor. Seiring dengan perkembangan zaman, masyarakat dan dunia pertanian meyukai makanan organik, berdampak pada peningkatan permintaan hasil budidaya udang windu di tambak. Berikut adalah beberapa hal yang harus direalisasikan secara baik mengenai budidaya udang windu:

  1. Memilih lokasi tambak yang baik
  2. Menyiapkan peralatan-peralatan pembantu yang dibutuhkan
  3. Membuat tambak dengan ukuran 2500-3000 m2
  4. Memupuk tambak
  5. Menebarkan benih udang dengan ukuran 15 hingga 20 ekor untuk setiap m2

Dengan melakukan bisnis udang windu, maka ada beberapa keuntungan yang tentu memiliki peluang yang besar dalam melakukan budidaya, diantaranya dari segi manfaat adalah sebagai berikut:

  1. Bergizi tinggi
  2. Dapat diolah menjadi beberapa produk
  3. Cepat Produksi

Dok. Yohanes Chandra Ekajaya

Dalam melakuakan berbagai macam usaha, ketekunan adalah kunci utama dari sukses. Namun, untuk mencapai tersebut diperlukan sebuah penghitungan maupun analisa keberhasilan suatu produk untuk melihat keefektifan produk tersebut di pasaran. Berikut adalah analisa keberhasilan produk udang windu yang dilakukan oleh Yohanes Chandra Ekajaya, sebagai berikut:

Usaha budidaya udang windu secara polikultur merupakan salah satu jenis usaha di bidang perikanan dan kelautan yang dalam pelaksanaannya untuk menghasilkan produksi, pendapatan dan keuntungan diperlukan berbagai macam anggaran biaya  yang mencakup biaya tetap (Fix cost) atau anggaran biaya tidak tetap (Variable Cost). Keuntungan/laba dalam melakukan suatu usaha, merupakan visi  bagi pelaku usaha, agar usaha yang ditekuninya terus berkembang. Oleh sebab  itu, para pelaku seharusnya melakukan penerapan prinsip ekonomi dalam menjalankan usahanya harus dijalankan. Pengertian prinsip ekonomi dalam menjalankan usaha adalah upaya menjalankan usaha untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dengan biaya yang dikeluarkan sekecil-kecilnya. Maka berikut ini adalah Analisa Data Keberhasilan tersebut.

Dok. Yohanes Chandra Ekajaya

Yohanes Chandra Ekajaya mengukur indeks keberhasilan tersebut diperoleh bahwa dari diagram tersebut diketahui beberapa anggaran yang diperhatikan yaitu berupa investasi, biaya tetap, biaya tidak tetap, dan yang terakhir adalah total penerimaan.  (Fix cos) dan biaya tidak tetap (variabel cost). Biaya-biaya usaha yang dikeluarkan antara lain biaya tetap (biaya penyusutan asset dan pajak), biaya operasional (pembelian benih dan BBM), dan biaya tenaga kerja (tenaga kerja persiapan,pemeliharaan dan juga tenaga panen). Harga jual untuk udang windu tergantung ukuran udang, untuk size 30 harga jualnya sebesar 70.000/Kg.

Dari seluruh biaya tidak tetap, biaya yang paling besar dikeluarkan adalah biaya untuk pakan, disusul oleh biaya benih. Tingginya harga pakan sering menjadi kendala utama bagi para pembudidaya sehingga tak jarang pembudidaya memberikan pakan alternatif lain yang harganya lebih terjangkau untuk menekan pengeluaran biaya pakan yang cukup besar.

Penerimaan/pendapatan adalah hasil kali jumlah produksi dikalikan dengan harga ikan/ udang. Adapun total penerimaan/pendapatan usaha budidaya tambak tahun 2012 untuk luasan lahan 5 ha Rp. 246.420.000,-. Keuntungan adalah selisih dari total penerimaan dikurangi total seluruh biaya yang dikeluarkan. Keuntungan yang diperoleh dari usaha polikultur udang per siklus dengan luasan lahan 5 ha dalam satu tahun mencapai Rp. 86.886.600,-. R/C rasio usaha budidaya polikultur udang per siklus adalah sebesar 1.69 dan usaha budidaya polikultur udang pertahun adalah sebesar 1.5.

Hal tersebut menunjukkan bahwa kelayakan ekonomis usaha budidaya polikultur udang  yang ada. Budidaya udang windu memberikan keuntungan dalam dua belas bulan sebesar Rp. 83.763.710,- dengan perhitungan R/C ratio >1. Hal tersebut berarti bahwa usaha budidaya udang windu layak untuk diusahakan. Perhitungan analisis sensitifitas pada usaha budidaya udang windu untuk umur proyek 10 tahun diperoleh NPV sebesar Rp. 93.664.893,-, Net B/C sebesar 2,70 dan nilai IRR Sebesar 33% yang menunjukkan bahwa usaha budidaya polikultur udang windu layak untuk diusahakan selama umur proyek. Peluang Pengembangan Budidaya Udang Windu cukup besar terutama dilihat dari faktor pendukung berupa aspek teknis, keinginan masyarakat yang cukup besar, aspek finansial dan aspek pasar dan dapat meminimalisir faktor penghambat usaha tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *