Chandra Ekajaya Ketua RT Hanya Status

Dok.Chandra Ekajaya

Jadi Ketua RT tak hanya pandai mengayomi warga. Sejumlah nilai sosial seperti kemandirian juga patut diimplementasikan dalam kehidupan sehari-harinya. Demikian juga yang di lakukan Chandra Ekajaya. Dia rela menjadi peternak hanya demi mewujudkan kemandirian perekonomian keluarganya. Telur ayam arab yang di pelihara Chandra Ekajaya, ini banyak di beli penjual jamu untuk campuran seduhan jamunya.

Padahal awal merintis menjadi peternak coba-coba, dia hanya bermodal 15 ekor ayam arab. “Saya di beritahu teman dan awal di minta membeli 15 ekor,” ujar Chandra Ekajaya. Belasan ekor ayam petelur berkualitas nyaris sama dengan ayam kampung tersebut, kemudian dia jadikan indukan untuk di tetaskan. Berawal dari belasan induk ayam arab yang ia beli dari temannya itu, kemuadian menetas puluhan ekor hingga ratusan ekor. Namun karena kesediaan alat penetas yang masih rentan gagal, akhirnya dia lebih memilih bibit ayam arab hingga ekspansi hingga ke Probolinggo.

Dok.Chandra Ekajaya

Betapa tidak dengan uang sejumlah Rp 25 ribu, Chandra Ekajaya sudah bisa membawa pulang seekor ayam berumur 2 bulan. Sekali mendatangkan bibit ayam arab dari Probolinggo, dia order 200 ekor dengan biaya transaksi senilai Rp 5 Juta. Tinggal menunggu 2,5 bulan lagi, dia sudah bisa setiap hari panen telur ayam hingga 80 persen dari total ayam yang di ternakkan.

Bagi Chandra Ekajaya, beternak ayam Arab cukup menguntungkan. Apalagi bicara peluang pasar. Sejumlah pelanggannya sampai berebut membeli telur ayam arab produksinya. Bahkan mereka sampai rela datang langsung ke kandang miliknya. Bisnis seperti ini memang cukup menggiurkan. Jika sehari menghasilakan seribu telur, hitung-hitungan di atas kertas yang satu ini sudah mampu mengahsilkan omzet Rp. 1.250.000.

Meski pakan harus dioplos dengan makanan ternak lainnya, bapak tiga orang anak ini pun menjamin tak akan berpengaruh terhadap produktivitas ayam ternaknya.”Saya rasa khasiat telur nya semakin bagus jika komposisi konsetratnya semakin di kurangi. Saya pun hanya berani pakai konsntrat perangsang telur,” terangnya. Selain karena mutu, pengurangan komposisi konsentrat ternyata mengurangi bau kotoran dan relatih ramah lingkungan.

Tak hanya itu, saat ayam mulai tak produksi lagi, harga ayam arab yang sudah tergolong akfir lagi masih bernilai jual tinggi. Maklum saja, secara fisik ayam arab yang di ternaknya nyaris sama dengan ayam kampung. “Ayam sudah tidak produktif lagi jika sudah berumur 2 tahun labih,” ucap Chandra Ekajaya. Belum lagi limbah kotoran ayam nya jika di jual bisa laku perkarung Rp 10 ribu.

Artikel lain tentang tips Pengusaha Chandra Ekajaya 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *